Wayang dari Kulit Manusia dan Gamelan Tertua di Hulu Serayu

Ada Wayang dari Kulit Manusia, Ada Pula Gamelan Tertua

[Mad Yamin membawa Wayang dari kulit Manusia, Dok. Ekspedisi Serayu. bid. Sosbud]

Lazimnya wayang, biasanya terbut dari kulit binatang, entah sapi maupun kambing. Namun tidak demikian yang ditemukan oleh Tim Expedisi serayu Bidang Sosial Budaya. Di Desa Jojogan Kecamatan Kejajar Kabupaten Wonosobo,  berhasil menemukan wayang yang konon salah satu bagiannya berasal dari kulit manusia. Si empunya wayang, Mad Yamin, mengungkapkan wayang tersebut merupakan warisan dari kakeknya, Mbah Glondong yang merupakan kepala desa yang cukup lama berkuasa di Jojogan. 

“Menurut sesepuh saya, wayang ini didapatkan dari bersemedi di Telaga Balekambang Dieng. Dengan wayang ini, sesepuh saya mampu menjadi dalang terbaik. Meskipun saya sendiri sampai saat ini tidak bisa mendalang” jelas Mad Yamin.

[Gamelan set tahun 1913 di kediaman Mad Yamin, Dok. Eks. Serayu bidang sosial budaya]


Tak hanya wayang aneh tersebut, Mad Yamin juga memamerkan koleksinya yang lain berupa tiga buah keris, serta perangkat gamelan berangka tahun 1913. Nama gamelan tersebut jelas terlihat “Tjadik rama bekel”. Seperangkat alat pewayangan tersebut, menurut Mad Yamin, juga didapatkan secara unik. “Dulu Mbah saya membeli gamelan tersebut dari orang Belanda di Dieng. Mbah saya membelinya dengan barter barang berupa bumbu ketumbar” tambah Mad Yamin.

Pada masanya, Dieng sempat mengalami beberapa kali perganitan komoditas pertanian. Selain ketumbar, dulu juga pernah berjaya pertanian bunga Pitrem/ Piretin, tembakau, kubis, hingga akhirnya kentang menggantikan itu semua sebagai komoditas utama.



["Tjadik Rama Bekel" Gamelan set berangka  1913. Dok. Tim Ekspedisi Serayu. bid Sosbud]

Sayangnya, beberapa koleksi benda kuno milik Mad Yamin kurang terawat, dan beberapa bahkan hilang. Salah satu pegiat budaya Desa Jojogan Bukhori bersama rekan-rekan pemuda berinisiatif untuk merawat benda-benda tersebut, terutama gamelan kuno. Menurut Bukhori, benda-benda dan tradisi budaya di desanya sangat perlu dilestarikan. “Kami memiliki mimpi untuk membuat semacam galeri atau museum mini di desa ini sebagai wadah benda-benda bersejarah. Pak Mad yamin bahkan sudah menyediakan tanah untuk dihibahkan. Kami berharap pemerintah atau pihak-pihak terkait dapat mendukung secara nyata keinginan baik kami” harap Bukhori. Narasumber: Heni Purwono (sejarawan Banjarnegara, Ketua Tim Sosbud Ekspedisi Serayu).  Posted by: Havid Adhitama

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Wayang dari Kulit Manusia dan Gamelan Tertua di Hulu Serayu"

Post a Comment