Sosok Dibalik Konservasi lingkungan Dataran Tinggi Dieng


Pelestari Lingkungan Kawasan Dieng

[Perbukitan gunung Prau yang mulai gundul. Dok. Tim Ekspedisi Serayu]

Perawakan kurus dan tinggi tak membuat Slamet Mustangin kehilangan kharisma. Mantan Kepala Desa (Kades) Dieng Wetan Kecamatan Kejajar Kabupaten Wonosobo periode 2007-2014 itu bahkan sempat didemo untuk kembali didaulat menjabat sebagai Kades untuk kedua kalinya. Namun hal itu ditolaknya. Ia lebih memilih untuk berbisnis carica bersama Sri Endar Wati, istrinya. Bahkan ia rela berpindah domisili ke desa tetangga, Patak Banteng, demi menghindari daulat rakyat tersebut. Apa gerangan yang membuat warga Dieng Wetan begitu mencintai pemimpinnya itu?

Ternyata kepedulian Slamet terhadap masyarakat dan juga lingkungan adalah jawabannya. Pada masa awal kepemimpinannya, kondisi kawasan Dieng rusak parah akibat poembalakan liar yang dilakukan oleh masyarakat. Pegunungan Prau Dieng dan sekitarnya hampir gundul seluruhnya. “Hal itu karena masyarakat memang membutuhkan kayu bakar. Kebetulan saat itu masih dalam euforia reformasi, sehingga saat itu Dieng benar-benar rusak lingkungannya” kenang Slamet.

Data Diri:
Slamet Mustangin
Tempat tanggal lahir: Wonosobo, 02 Juli 1970
Istri: Sri Endar Wati
Anak: Ika Syafitri (p), Ari Firmansyah (l)
Alamat: Desa patak Banteng, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah.


Kebetulan saat itu berbarengan dengan program LPG 3 kilogram dari pemerintah, maka Slamet memutar otak dan membujuk masyarakat untuk beralih dari kayu bakar ke gas. “Masyarakat tidak butuh penerangan tentang lingkungan, namun perlu solusi. Bahkan jujur saat itu warga miskin sampai saya jatah 2 tabung LPG 3 kilogram supaya mereka mau beralih dari kayu bakar dari jatah 1 tabung dalam regulasinya. Dipenjara pun waktu itu saya siap, karena yang saya bela adalah kepentingan rakyat miskin dan juga menyelamatkan lingkungan Dieng” tambah Slamet.

Pelan tapi pasti, masyarakat Dieng mulai sadar dan mau beralih meninggalkan kayu bakar. Meski demikian, Slamet tak tinggal diam. Menguatkan kebijakan pro lingkungan, ia mengeluarkan Peraturan Desa (Perdes) yang melarang penebangan hutan. “Sanksinya tidak main-main, denda 1, 5 juta dan kurungan 3 bulan. Ternyata ini berefek jera dan menakutkan bagi masyarakat, sehingga mereka tidak lagi berani membalak hutan” tambah Slamet. 

[Slamet dan Sri, Mantan Kades Dieng Wetan. Dok. Tim Eks. Serayu]

Upaya konservasi pun mulai dilakukan dengaan penanaman tanaman produktif di lahan-lahan kritis. Dengan bantuan dari Pemda Wonosobo, Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH), JEF dan UNDP, Slamet mengajak warga untuk membudidayakan carica, terong Belanda, dan aneka tanaman produktif lainnya. jika diajak menanam pohon kayu tahunan, masyarakat sini tidak mungkin mau, karena mereka butuh sesuatu yang menghasilkan secara ekonomi. Karenanya slamet mengajak mereka untuk menanam tanaman produktif yang cepat terlihat hasilnya, sekaligus tanaman yang mampu mengurangi erosi tanah di kawasan Dieng.

Pelan tapi pasti, warga Dieng mulai beralih dari komoditas utama kentang menjadi carica. Hasilnya, kini jika kita berwisata ke objek wisata Dieng dari arah Wonosobo, maka puluhan lapak penjual olahan carica berderet sepanjang kanan kiri jalan. Menurut Slamet, harga kentang yang mulai menurun dan menyebabkan kerusakan lingkungan terutama di DAS Serayu, akan teratasi manakala masyarakat beralih komoditas pertaniannya. “Kalau masyarakat Dieng ingin kaya lagi seperti zaman kejayaan kentang, maka mereka harus menanam carica, terong belanda, kacang babi (Dieng), eucaliptus serta purwaceng. Itu ngiras ngirus (sekaligus) menyelamatkan lingkungan Dieng” tandas Slamet. 

Dalam masa kepemimpinannya, Slamet berhasil menyelamatkan seluas 165 hektar tanah hutan pegunungan Dieng yang sekarang menjadi hijau dengan tanaman carica, eucaliptus, dan tanaman-tanaman endemik lainnya. Ia juga mampu menyelamatkan belasan mata air. “Ketika baru menjabat Kades, saya kehilangan 17 mata air. Alhamdulillah sekarang mata airitu sudah muncullagi, tinggal 2 buah yang belum” ujar Slamet. Dalam hal sampah, ia juga berhasil membuat sistem pengolahan sampah masyarakat, serta pemanfaatan biogas dari kotoran ternak yang banyak dikembangkan di Dieng.

Atas keberhasilan itu, Slamet direkomendasikan oleh Bupati Wonosobo Kholiq Arif untuk mendapatkan hadiah berupa hibah waris lahan hutan dari Kementrian Kehutanan seluas 6, 7 hektar di Wana Wisata Petak 9 Dieng. “Saya berharap nantinya wana wisata itu menjadi tempat alternatif wisata selain yang saat ini sudah ada di Dieng, sehingga makin banyak masyarakat yang mendapatkan manfaatnya” harap Slamet.

[Tempat Produksi Olahan Carica 'Exotic' milik Slamet. Dok.Tim Eks, Serayu]

Kini, lelaki yang sebelum menjadi Kades pernah memiliki 30 karyawan petani di Dieng ini tengah menjalani masa “pensiun” dengan berbisnis carica dengan merek dagang Exotic Carica di Desa Patak Banteng, 3 kilometer dari dataran tinggi Dieng,dan memiliki 15 karyawan. “Memang secara ekonomi menjadi Kades banyak ruginya. Namun saya yakin Allah membalas dengan hal yang lebih baik. Harta bisa dicari, namun umur dan harta yang barokah tidak semua orang bisa mendapatkannya. Saya ingin menjadi orang yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain” pungkas Slamet. Narasumber; Heni Purwono (Sejarawan, Ketua Tim Sosbud Eks. Serayu) 
Posted By: Havid Adhitama

Subscribe to receive free email updates:

4 Responses to "Sosok Dibalik Konservasi lingkungan Dataran Tinggi Dieng"

  1. Alhamdulillah... hehe
    semoga bisa berkembang terus kegiatan konservasi lingkungannya :D

    ReplyDelete
  2. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete
  3. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete