VAw4HBTsJIe15camAdLyxmr6Gko2NgDKdvrlkFP2

Cara Komunikasi Melalui Satelit IO-86 LAPAN A2 ORARI

 

Bimtek Komunikasi Satelit YD2CLX

Sejak kecil ketika mendengar kata “satelit” yang muncul di angan saya adalah sebuah teknologi tingkat tinggi yang sulit diakses oleh orang umum, erat kaitanya dengan militer dan peperangan. Namun, gambaran tersebut berubah total ketika saya benar-benar bisa mengakses satelit secara otodidak. Cerita tentang awal mula saya bereksperimen mengakses satelit sudah pernah saya tulis pada tulisan pada link ini.

Kali ini saya akan sedikit bercerita tentang bagaimana cara mengakses satelit amatir radio milik Indonesia hasil kerja sama antara Organisasi Amatir Radio Indonesia (ORARI) dengan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) yang sekarang melebur pada Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Satelit ini merupakan satelit kedua yang benar-benar diciptakan di Indonesia oleh anak bangsa, sebelumnya LAPAN telah membuat satelit A1 Tubesat pada 2007 untuk misi penginderaan jauh.

Setelah kesuksesan satelit tersebut, LAPAN dan ORARI berkerjasama untuk membuat satelit serupa namun ditambahi dengan perangkat Voice Repeater Radio dan Digipeater APRS. Kedua perangkat tersebut digunakan untuk misi emergency communication pada mitigasi dan evakuasi kebencanaan. Proyek ini sudah dimulai sejak 2010 dan berhasil diluncurkan pada 2015, di sini LAPAN sebagai pembuat struktur dan sistem, sedangkan ORARI berfokus pada muatan atau Payload berupa pemancar ulang radio yang memiliki sistem Crossband UHF/VHF dan juga Digipeater APRS yang digunakan untuk pemancar ulang teks maupun data yang digunakan untuk IoT radio packet.

Satelit LAPAN A2 ORARI juga memiliki nama seri OSCAR (Orbiting Satellite Carying Amateur Radio) ke 86 di dunia, IO-86 bermakna Indonesian Oscar seri 86. Satelit yang serupa dengan IO-86 adalah American Oscar AO-91, AO-92, PO101 Philipine Oscar 101, SO-50 Saudi Oscar 50 yang sama-sama membawa payload amatir radio berupa FM crossband repeater.

Downlink dan Uplink Satelit IO-86

Yang special dari voice repeater pada satelit LAPAN A2 ORARI ini adalah bisa diakses dengan HT kecil standar semacam HT Baofeng dll, sehingga benar-benar bisa digunakan pada situasi darurat. Pemancar balik satelit A2 ini memiliki daya pancar 5 watt, ini merupakan pemancar terbesar dibanding dengan AO-91, AO-92 dan SO-50. Dengan daya yang cukup besar tersebut, sinyal balik dari satelit LAPAN A2 ini bisa diterima menggunakan antenna rubber duck bawaan HT standar dan mencakup footprint lebih dari 4.500km. Footprint tersebut memungkinkan rekan-rekan di Indonesia untuk berkomunikasi dari Jakarta ke Srilanka, Thailand hingga Jepang dan China.

Untuk itu, berikut alat-alat dan data pendukung untuk mengakses satelit IO-86 ini:

Radio Dan Antena

HT dual band

HT yang digunakan untuk komunikasi satelit yaitu HT dual band UHF/VHF yang bisa disetting tone atau T-CTCS pada perangkat tersebut. Sebenarnya bisa saja menggunakan HT Single band, tetapi harus menggunakan 2 antenna ataupun duplexer. Berdasarkan pengalaman, lebih baik menggunakan HT dual band produksi China yang sudah SDR based, HT China semacam Boafeng UV-5R, UV-82 atau HT Fastcom biasa digunakan oleh rekan-rekan AMSAT-ID karena peka untuyk RX sinyal satelit.

HT tersebut di setting TX pada frekuensi 145.880mhz tone 88.5hz dan RX pada 435.880mhz, namun karena satelit mengorbit pada ketinggian 600+Km di atas bumi, sinyal downlink pada UHF 435.880mhz mengalami efek doppler, sehingga perlu koreksi frekuensi kurang lebih 10khz pada saat menerima sinyal dari satelit. Untuk setting frekuensi akan saya bahas lebih lanjut pada postingan berikutnya.

Antena Moxon Yagi Simpel

Antenna

Bagi rekan amatir radio pasti sudah paham terkait karakteristik tiap model antenna, namun karena pada komunikasi satelit kita berorientasi untuk situasi emergency, sebaiknya berlatih menggunakan antenna minimalis yang paling praktis dan memungkinkan untuk digunakan pada situasi darurat. Terkait antenna, satelit IO-86 bisa diakses dengan antenna HT bawaan rubber duck atau monopole super stick biasa asalkan memiliki rentang frekuensi UHF/VHF.

Skema Antena Moxon Yagi Dual Band

Untuk kondisi lebih optimalnya, bisa menggunakan antenna pengarah jenis Moxon-Yagi yang simple. Moxon yagi ini bisa dibuat dari berbagai material dari kawat jemuran, kawat hanger, hingga kawat las ataupun inner kabel tunggal. Desain moxon yagi emergency ini sangat mudah dibuat dengan material total kurang dari 3 meter. Jika menggunakan kawat las hanya perlu 3 batang. Desain ini memunginkan untuk kita pakai pada situasi darurat di lokasi yang memiliki akses terbatas. Informasi dari rekan AMSAT-ID, Antena ini SWR-nya tidak begitu bagus, namun gain yang diperoleh antenna ini sekitar 3db penguatan. Tentu lebih baik daripada antenna monopole biasa asal pointing dan tracking satelitnya sesuai.

Orbit Satelit IO-86

Jadwal Aktivasi dan Elevasi Orbit

Satelit IO-86 ini merupakan satelit LEO atau Low Earth Orbit, dengan lintasan equatorial. Jadi sejak peluncuran pada 2015, IO-86 terus bergerak mengelilingi bumi dan melintasi Indonesia setiap 100 menit dengan inklinasi 6 derajat. Simpelnya, Satelit IO-86 melitas dari barat ke timur memiliki durasi sekitar 12 menit. Dalam waktu tersebut kita bisa melakukan komunikasi sesuai dengan sudut elevasi yang di dapat. Namun karena satelit IO-86 memiliki banyak misi dan kondisi baterai yang tidak sekuat pada awal peluncuran, sekarang perangkat voice repeater hanya diaktifkan pada weekend dan event khusus saja.

Aplikasi ISS Detector

Untuk melihat jadwal kapan satelit IO-86 melintasi Indonesia, teman-teman bisa mengaksesnya via release resmi di Instagram @PR_Teksat. Pada tabel yang diunggah teman-teman bisa cek jadwal VR atau Voice Repeater. Kemudian untuk mengetahui elevasi dan track satelit ketika melintas. Kita bisa menggunakan aplikasi ISS detector untuk user Android maupun IOS, namun aplikasi ini berbayar. Atau untuk versi gratisnya bisa menggunakan aplikasi Amsatdroid Free. Dengan aplikasi ini kita bisa mengetahui ketinggian maksimum dan track satelit guna mengarahkan antenna secara tepat sehingga bisa menerima audio dan sinya dari satelit maupun memancarkan dengan optimal.

Cara Tracking

Terus Berlatih

Sebenarnya komunikasi via satelit ini tidak berbeda dengan kita berkomunikasi melalui repeater terrestrial, hanya saja repeater yang digunakan bergerak cepat dan memiliki waktu yang terbatas. Jam terbang akan mempengaruhi keberhasilan kita dalam komunikasi ini, yang menjadi fokus utama adalah ketepatan tracking dan koreksi frekuensi akibat efek dopler. Saya yakin dalam beberapa kali percobaan teman-teman akan terbiasa.

Efek Doppler

Namun perlu diingat, komunikasi satelit ini bukan untuk QSO reguler membahas topik yang ga jelas di udara, namun harus diniatkan untuk berlatih pada kondisi darurat. Selain kondisi yang tidak memungkinkan untuk berbicara panjang lebar, komunikasi satelit ini juga mesti memberikan kesempatan pada rekan lain yang mengakses dengan tidak menyerobot panggilan atau melakukan CQ yang panjang.

Untuk informasi cara setting frekuensi doppler pada HT akan saya bahas lebih lanjut pada artikel berikutnya, jika ada pertanyaan terkait komunkasi satelit rekan-rekan bisa menghubungi saya secara personal.

Havid Adhitama
An Licenced Amateur Radio, Travel Enthusiast, Love about Nature, Sosio-Culture And Outdoor Activity.

Related Posts

2 comments

  1. Sangat membantu untuk pemula yang ingin mencoba. Salam kenal disini yd2bve 73.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kenal juga om, de YD2CLX. ditunggu untuk mengudara via satelit IO86

      Delete