Kentang dan Evolusi Komoditas Pertanian Dieng

Dieng Terus Alami Evolusi Komoditi Ekonomi 

dokumentasi tim ekspedisi Serayu

Jangan bayangkan komoditas pertanian kawasan Dieng saat ini sama dengan masa lampau. Jika kini hampir seluruh lahan ditanami petani dengan tanaman kentang, maka pada zaman lampau Dieng pernah beberapa kali mengalami evolusi komoditi. Dalam arsip-arsip kolonial, Dieng dikenal sebagai penghasil bunga pitrem. Sebelum tahun 1980-an, komoditas yang banyak dikembangkan di Kecamatan Batur dan Dieng Kulon Banjarnegara adalah bunga pitrem, ditambah tembakau, teh, bahkan ketumbar. 

Menurut sejarawan Banjarnegara dari Universitas Negeri Semarang Tsabit Adzinar Ahmad, kondisi itu berakhir dengan masuknya investor yang menanamkan modal dalam pertanian kentang. Tak hanya itu, keberadaan PT Dieng Jaya yang mengoperasikan pabrik jamur juga sejenak menjauhkan warga Dieng dari pertanian. Namun pada tahun 1990-an, pabrik jamur gulung tikar. “Evolusi komoditi tersebut mengubah pola kehidupan sosial ekonomi masyarakat Dieng Kulon. Termasuk dalam hal ini terjadi revolusi lingkungan yang berimbas pada rusaknya hutan juga terjadi pada tahun-tahun itu” jelas Tsabit.

Honger Odeem munculkan PKK
Hal tersebut dibenarkan oleh sesepuh Dieng Kulon Naryono (65). Pada masa komoditas pertanian di Dieng bunga pitrem, banyak terjadi honger odeem (busung lapar). “Waktu itu memang bayak sekali anak-anak yang busung lapar. Bahkan ketika bupati Banjarnegara berkunjung ke Dieng, beliau pingsan seketika melihat anak-anak Dieng busung lapar. Karena harga pitrem saat itu memang tidak seberapa. Baru ketika pabrik jamur Dieng Jaya mulai beroperasi, warga Dieng sudah mulai terbebas dari kelaparan. 

Meskipun menyedihkan, namun kisah hoger oodem manjadi tonggak munculnya gerakan PKK (Pendidikan Kesejahteraan Keluarga). Masih menurut Tsabit, saat istri Gubernur Jawa Tengah Isriati Moenadi berkunjung ke Dieng pada tahun 1967, melihat banyak sekali penyakit busung lapar menjadikannya berinisiatif mendirikan gerakan PKK. “Ternyata gerakan tersebut sangat berhasil mengatasi busung lapar di jawa Tengah. Atas keberhasilan itu, presiden RI menganjurkan kepada menteri dalam Negeri Amir Machmud agar gerakan PKK dilaksanakan di seluruh daerah di Indonesia” jelas Tsabit.

dokumentasi tim ekspedisi Serayu bid. sosial budayaKini perekonomian yang ditopang oleh komoditas kentang mulai menurun. Bahkan kualitas alam pun setali tiga uang. Sehingga menurut mantan Kepala Desa Dieng Wetan Slamet Mustangin, jika masyarakat Dieng ingin kembali merasakan kejayaan ekonomi seperti saat awal kejayaan kentang, maka harus melakukan kembali evolusi komoditi. “Masyarakat Dieng semestinya menanam purwaceng, carica, terong belanda, eucalyptus, dan kacang babi (Dieng), karena harga kentang sekarang tidak menentu, selin itu juga sangat merusak lingkungan. Dengan menanam tanaman tersebut, saya yakin Dieng akan kembali makmur dan lingkungan pun akan kembali lestari” ujar Slamet.

Penurunan komoditas kentang di Dieng diperparah lagi oleh kebijakan pemerintah akan impor kentang, kentang yang semula memiliki harga sekitar sekitar Rp. 12.000/kg semenjak dilkakukanya impor kentang oleh pemerintah harga kentang saat ini tidak pernah mencapai angka Rp.10.000/kg. para petani  di Dieng berencana akan mengadakan demo jika diplomasi antara ketua paguyuban petani kentang Dieng dengan pemerintah tidak direspon. 

Dan dari berbagai permasalahan yang ada sepertinya komoditi Dieng akan terus berevolusi. Seiring tuntutan ekonomi warganya. evolusi tersebut memungkinkan menjadikan Dieng semakin maju di sektor ekonomi, dan alamnya lestari.  Narasumber: Heni Purwono (Ketua Tim Sosial Budaya, EKspedisi Serayu) Posted by Havid Adhitama

Subscribe to receive free email updates:

2 Responses to "Kentang dan Evolusi Komoditas Pertanian Dieng"

  1. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete
  2. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete