Dieng Culture Festival, Festival Budaya Paling Mengesankan!

Ganjar Pranowo Guberbur Jateng memotong rambut anak bajang

Dieng Culture Festival (DCF) adalah acara rutin tahunan pemotongan rambut anak gimbal yang menurut kepercayaan masyarakat Dieng anak tersebut adalah titisan leluhur mereka yaitu Ki Agung Kaladete dan Ni Roro ronce dan pemotongan rambut tersebut harus melalui ritual khusus agar tidak membawa malapetaka bagi keluarga, acara ini  diselenggarakan oleh Dinas  Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banjarnegara yang dipanitiai oleh kelompok sadar wisata (pokdarwis) Pandhawa yang memiliki sekretariat di desa Dieng kulon, Batur, Banjarnegara.

Tahun 2016 adalah tahun ke 7 dari acara Dieng Culture Festival, acara ruwatan tersebut sebenarnya sudah dilakukan sejak jaman dahulu namun baru tahun 2009  ruwatan anak gimbal di dataran tinggi Dieng di buat meriah dan di selenggarakan festival budaya. 
"Anak berambut gembel adalah anak bajang titisan Eyang Agung Kaladate dan Nini Ronce selaku leluhur warga suku Dieng. Karena dianggap titisan dewa itulah, maka anak berambut gembel tidak boleh dipotong rambutnya secara sembrono (asal). Jika rambut anak gembel dipotong tidak melalui acara ritual yang khusus, maka si anak akan jatuh sakit dan dipercaya akan mendatangkan bencana bagi keluarganya"
kutipan dari mbah Naryono selaku pemangku adat di dataran tinggi dieng,  mungkin untuk sebagian orang pernyataan tersebut adalah mitos, tetapi mitos dan kebudayaan unik seperti itulah yang membuat indonesia menjadi kaya akan budaya dan kearifan lokal dan menjadi  daya tarik sendiri untuk dikunjungi, nyatanya kemarin saat diselenggarakan DCF -7 sekitar 100.000 orang berada di dataran tinggi dieng untuk menyaksikan ruwatan anak gimbal dan menikmati udara sejuk di ketinggian 2000+mdpl, tidaka hanya pengunjung dari dalam negeri, namun dari luar negeri pun banyak yang mengunjungi acara DCF tersebut.

Prosesi Ruwatan anak gimbal saat acara DCF berlangsung, yang pertama adalah ritual untuk memanggil roh leluhur dan pemanjatan doa agar acara ruwatan anak gimbal tersebut berjalan dengan lancar tanpa halangan suatu apapun, ritual tersebut dilakukan dirumah mbah Naryono selaku pemangku adat,

sesepuh pemangku adat melakukan ritual sebelum ruwatan

setelah itu, anak-anak bajang tersebut di naikan ke kereta kencana dan mengikuti kirab budaya atau arak-arakan bersama rombongan sesepuh dan prajurit   dari rumah ketua adat menuju sendang  (sumber mata air) Dharmasala yang berada di komplek candi arjuna Dieng untuk di bilas rambut dari anak bajang tersebut sebelum di potong, 
anak bajang peserta ruwatan menaiki kereta kencana smenuju sendang

kemudian setelah rambut anak bajang tersebut sudah di bilas, anak bajang tersebut di bawa ke candi arjuna untuk melakukan prosesi ruwatan, sebelumnya panitia telah menyiapkan barang-barang permintaan dari  anak-anak tersebut, untuk tahun ini (2016) ada 11 anak yang mengikuti acara ruwatan, permintaanya pun kadang nyeleneh seperti meminta karet gelang 5 biji, sapi, kucing hingga meminta sepeda motor cross mini, tetapi permintaan tersebut harus dituruti agar rambut anak gimbal tersebut setelah dipotong tidak gimbal lagi dan bersih dari aura-aura ki kolodete dan Ni Roro Ronce,
dan untuk pemotongan rambut anak-anak bajang tersebut dilakukan bergilir oleh pejabat-pejabat yang ikut hadir dalam acara tersebut seperti Gubernur Jateng bapak Ganjar Pranowo dan anggota DPR RI serta bupati Banjarnegara saat DCF 7 2016 kemarin.
anak bajang menunggu giliran pemotongan rambut

sesudah pemotongan rambut anak gimbal tersebut, dilanjutkan dengan acara ngala berkah atau berebut makanan sesaji yang dsediakan oleh panitia dan pemangku adat, kemudian rambut-rambut anak tersebut  dilarungkan ke Telaga Warna yang menurut kepercayaan adalah pintu masuk yang tembus ke laut Selatan.

(saya, penulis menerbangkan lampion)

selain acara ruwatan dan kirab budaya, yang menjadi daya tarik sendiri bagi wisatawan adalah acara pesta lampion dan pertunjukan musik jazz atas awan pada malam hari sebelum acara ruwatan anak bajang tersebut, peserta menikmati pertunjukan musik di suhu datara tinggi Dieng yang pada malam hari berkisar di bawah 10 derajat celcius, meskipun dingin para peserta tetap menikatinya karena panitia juga menyediakan anglo atau tungku arang beserta jagung bakar untuk menghangatkan tubuh peserta ketika pertunjukan  jazz  berlangsung.
saya, penulis berfoto bersama bapak gubernur jawa tengah, ganjar pranowo

Ditulis dan di posting oleh Havid adhitama .









Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Dieng Culture Festival, Festival Budaya Paling Mengesankan!"

Post a Comment