Nama Serayu dan Bima Lukar dalam Mitos dan Legenda

    [Tuk Bima Lukar, Dieng. Dok. Tim Ekspedisi Serayu]

Serayu dalam perjalanan Bujangga Manik disebut dengan nama Ci-Sarayu (Noorduyn, 1982: 434 dalam Priyadi, 2015: 224). Dalam cerita-cerita mitologis yang erat kaitannya dengan tradisi Hindu Siwaistis, dikatakan bahwa Serayu diciptakan oleh Bima atau Werkudara menggunakan alat kelaminnya. Dalam penelusuran Ekspedisi Serayu Bidang Sosial Budaya sepanjang Wonosobo hingga Cilacap, masing-masing daerah memiliki versi tentang sungai pasangan Serayu. Di daerah Wonosobo misalnya, meyakini sungai Serayu sebagai kali lanang, sedangkan sungai Tulis sebagai kali wadon. Di daerah Banjarnegara ada dua versi, versi pertama meyakini bahwa kali wadon adalah sungai Merawu, sedang yang kedua sungai Pekacangan. 
[Hulu Serayu Dok. Tim Ekspedisi Serayu]

Di Purbalingga, masyarakat meyakini bahwa kali wadon adalah sungai Klawing (Poerbatjaraka, 1992: 24). Lain pula halnya di Banyumas, mereka meyakini bahwa kali wadon adalah sungai Logawa. Serayu sebagai kali lanang selain karena dipercaya dibuat oleh Bima, juga dinamai dengan nama-nama sungai di India seperti: Narmada, Bengawan Silugangga, Gangga, Selaganggeng, serta Naramada Silugangga. Kesamaan tentang “kejantanan” Serayu juga adanya tiga nama Mangli di Wonosobo, Banjarnegara, dan Banyumas yang merupakan DAS Serayu. Semua itu menunjukkan kejantanan karena bunga Mangli merupakan lambang phallus (Soekarto, 1989 dalam Priyadi, 2015: 245).

Mengapa Bima sangat lekat dengan Serayu? Ada kemungkinan hal ini terkait dengan Raja Sanjaya yang ingin mengabadikan nama ayahnya, Raja Sanna (Sena). Serayu merupakan jalur perpindahan Sanjaya dari Galuh menuju Medang ri Poh Pitu. Hal itu diperkuat pula dengan banyaknya temuan artefak berlanggam Siwaistis di sepanjang DAS Serayu, yang menguatkan bahwa Sanjaya adalah pemuja Siwa sebagaimana disebut dalam kitab Carita Parahyangan. Siwapuja disebut pula Bimapuja, atau Linggapuja. Bima dalam pewayangan gagrag Banyumas disebut Sena, Werkudara, Bimasena, atau Gajahsena. 

 [Aktifitas di Sungai Serayu. Dok. Tim Ekspedisi Serayu]

Terkait Bima Lukar, selain dimitoskan sebagai tempat Bima melepas pakaiannya sebelum membuat sungai Serayu, sesepuh Dieng Kulon Naryono (alm.) mengungkapkan bahwa Bima Lukar merupakan tempat yang dikeramatkan dan banyak orang yang mengambilnya untuk beragam keperluan. Ia menjelaskan pula bahwa Bima Lukar sebagai penanda Bima melepas ke-Hinduannya berubah menjadi Islam. narasumber: Heni Purwono, sejarawan Banjarnegara. Posted by Havid Adhitama

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Nama Serayu dan Bima Lukar dalam Mitos dan Legenda"

Post a Comment