VAw4HBTsJIe15camAdLyxmr6Gko2NgDKdvrlkFP2

Solo-Riding Melintasi Sepertiga Jawa Tengah - Part 3

Lereng Selatan Sumbing

Saya hanya menginap satu malam disini. Keesokan harinya saya diajak naik ke kebun miliknya yang berada di ketinggian 2000Mdpl, saya mengukurnya dengan altimeter di ponsel saya. Ohiya yang menjadi ciri khas perkebunan kentang di lereng adalah sepeda motor bisa naik ke atas bukit, jalanan single track memang di buat oleh warga agar akses menuju kebun mudah. Mereka biasanya memiliki sepeda motor khusus untuk menuju kebun yang  biasa disebut trail odong-odong, saya yakin, motor sport full fairing dengan harga puluhan juta pasti kalah dengan trail odong-odong ketika naik ke kebun wkwk. Modif motor para petani disini menitik beratkan pada peningkatan torsi, yaitu dengan merubah final ratio agar ngacir di tanjakan terjal seperti yang pernah saya tulis pada artikel "Merubah Final Ratio Agar Lebih Bertenaga"


Saat itu cuaca kurang mendukung, hujan gerimis serta kabut masih menyelimuti padahal waktu baru menunjukan pukul 8 pagi. Saya hanya mengambil beberapa foto diatas lereng Sumbing. Kemudian teman saya mengajak  ke Basecamp pendakian gunung Sumbing via Kaliangkrik yang letaknya di sebelah desanya, jaraknya mungkin  sekitar 1 kilometer, sangat dekat. Akses menuju basecamp sebenarnya mudah karena hanya melewati jalan desa yang di cor, tetapi karena saya tidak biasa melewati jalanan desa yang sangat nanjak dan sempit ini membuat saya agak kewalahan. Pemukiman disini sangat langka yang saling berhadapan sebab susunan rumah di lereng seperti terasering yang disusun rapi, cukup mengesankan bagi saya. 

Teman saya sedang pipis

Di Basecamp saya hanya melihat-lihat, dan bertemu beberapa pendaki yang akan naik ke puncak Sumbing di cuaca yang kurang bersahabat. Setelah turun dan kembali ke rumah Bayu, saya langsung packing barang dan berpamitan untuk pulang, cuaca pada saat itu  masih hujan tetapi saya terjang. Perjalanan saya lanjutkan untuk menuju ke dataran tinggi Dieng, jaraknya sekitar 64 Km bisa ditempuh dengan waktu 2 jam. Turun dari Kajoran, Magelang menuju kecamatan Kepil, Wonosobo kemudian melewati kecamatan Kertek menuju arah kota Wonosobo dan ke arah utara menuju Dieng. 

Dieng hujan sepanjang hari, saya mampir di warung kopi langganan, duduk dan genen alias berapi didepan anglo kaleng kerupuk, ngobrol dengan teman saya yang rumahnya tidak jauh dari warungnya. Sebenarnya setengah jam lagi saya sampai ke rumah namun saya diajak untuk menginap di Dieng, ia ingin mengajak saya untuk mencoba peralatan flying fox baru milik tim-nya. Saya menerima ajakan itu dan keesokan harinya saya mencoba sensasi bermain flying fox dengan jarak sekitar 300 meter dengan ketinggian 25 meter diatas tanah. 

Selesai menjajal Flying Fox saya putuskan untuk pulang kerumah. Dalam perjalanan ini saya mendapatkan banyak pengalaman dan pengetahuan-pengetahuan baru yang tentu tidak akan saya dapatkan dengan berdiam diri di rumah. Bertemu banyak orang dengan banyak cerita dan perbedaan. Menemukan hal-hal baru yang belum pernah saya temui sebelumnya. Dan yang saya  simpulkan dari perjalanan ini adalah jarak yang jauh, waktu yang lama hanyalah sebatas angka. 

Havid Adhitama
An Licenced Amateur Radio, Travel Enthusiast, Love about Nature, Sosio-Culture And Outdoor Activity.

Related Posts

Post a Comment