Full width home advertisement

Bike-Packing!

Expedition

Post Page Advertisement [Top]

Feature

Menpar Arief Yahya, Mereka Cuma Butuh Pengakuan!

Penulis Bersama Mentri Pariwisata Arief Yahya

The Hardest thing to say  adalah ketika usai berlibur lalu kamu harus menjawab   pertanyaan  “kamu liburan dapet apa?”  …beruntung jika kamu pulang dengan membawa buah tangan, mungkin orang rumah akan berhenti pada pertanyaan  itu.  Tapi naasnya adalah ketika kita berlibur dengan dana pas-pasan, dan  untuk akomodasi perjalanan saja dana sudah mepet, oleh-oleh untuk orang dirumahpun terabaikan. Dan pertanyaan itu mungkin hanya bisa dijawab dengan “dapet cerita..”….. “dapet lelah…”

Lantas, apa yang mereka cari ketika berlibur? Nahh, di awal tahun ini saya diundang dan berkesempatan bertemu dengan bapak Arief Yahya, Menteri Pariwisata RI untuk berdialog tentang pembangunan Pariwisata di Jawa Tengah bersama rekan-rekan Generasi Pesona Indonesia atau  genPI, pertemuan ini digelar di Grand Maerakoco Semarang. 
GenPI, Peserta Dialog bersama Menpar -@jeimifa

Pak Arief yahya memaparkan tentang target pembangunan serta optimalisasi pariwisata di jawa tengah. Di awal pembicaraanya, ia menjelaskan tentang kebutuhan generasi jaman sekarang. di era milenial ini kebutuhan masyarakat bukan lagi hanya berkaitan dengan Sandang, Pangan, Papan tetapi mereka juga membutuhkan Eksistensi agar  di akui!

Kebutuhan akan Eksistensi ini ada karena kemajuan teknologi, dimana sosial media menjadi ajang  untuk unjuk diri dan menjadi ladang mendapatkan “pengakuan” dari netizen. Pengakuan disini bermaksud untuk mendapatkan apresiasi atas memperlihatkan jati dirinya ketika berwisata. Sekarang, hal inilah yang  mereka cari ketika berlibur atau berwisata.

Banyak yang mengatakan berwisata, piknik atau apapun itu hanya hal yang boros. saya mengiyakan hal itu, karena kegitan ini memang memerlukan dana di setiap perjalanan. Tetapi  ini akan sebanding ketika piknik yang kita lakukan bertujuan untuk merefresh pikiran agar lebih produktif berkerja atau menjalani rutinitas.

Sebenarnya, naluri manusia yaitu menginginkan kebebasan, berpetualang mencari hal-hal baru dalam hidupnya dan ketika piknik, kita bisa mendapatkan hal tersebut. Namun yang menjadi masalah adalah hal-hal yang membatasi diri kita untuk bergerak. Yang utama adalah keterbatasan jarak dan waktu. 
Salah satu spot di Grand Maerakaca

Walaupun terbatas, “Piknik” menjadi salah satu hal yang penting dalam kehidupan masyarakat. Sektor ini memang sangat prospek dikelola untuk menggerakan perekonomian secara luas. Dan hal tersebut sudah terbukti, di tahun 2017 saja sektor pariwisata menjadi pemasok uang Negara terbanyak  kedua untuk Indonesia setelah sektor kelapa sawit.

Dalam dialognya, pak Arief yahya bertutur agar pengelolaan pariwisata harus disesuaikan dengan perkembangan jaman, Internet dan teknologi harus dimanfaatkan secara maksimal dimana keterbatasan ruang dan waktu bisa manipulasi dengan teknologi yang ada. 
Mengingat GenPI merupakan bentukan dari Kementrian pariwisata, GenPI  memiliki tugas untuk mempromosikan dan mengelola pariwisata secara digital. Travel blogger, fotografer, videographer, desainer grafis dan sosial media influencer memiliki peran yang penting dalam pengelolaan pariwisata secara digital seperti yang GenPI kembangkan. Karena yang menjadi tujuan adalah tentang Social media Value. dimana hal ini akan memicu pergerakan perekonominan yang signifikan dengan balutan ide-ide kreatif anak muda era sekarang. 

Selain sosial media Value yang pak mentri ungkapkan, pengembangan Start-Up baru juga sangat membantu dalam pergerakan-pergerakan tersebut. Hal itu bisa saya lihat dan rasakan ketika bergabung dengan genPI, saya bisa melihat pergerakan-pergerakan besar dalam pariwisata yang dimodali oleh sedikit pemicu. 

Sebenarnya saya bingung ketika di awal saya mulai kecanduan untuk piknik, tracking kehutan, camping, naik gunung dan lain sebagainya karena ketika saya pulang selalu di tanya oleh  ibu  “munggah gunung nguyak apa njane?” (naik gunung sebenarnya mau nyari apa?)  pertanyaan tersebut tidak pernah bisa saya jawab selain dengan kata-kata “…mendapat pengalaman” .. “….mendapat cerita baru”  

Namun sekarang, saya bisa menjawab pertanyaan tersebut dengan dengan “..mendapat Uang”, “…Ilmu baru”, “…strategi baru” dan lain sebagainya. Karena saya belajar untuk membalik keadaan dan membaca peluang dari semula hanya partisipan pasif alias sekadar berwisata sekarang menjadi menghasilkan. Semua orang bisa melakukan hal itu. disini saya belajar untuk mengembangkanya dengan membuat “start-up”  Trave_link, dan juga terus menulis di blog ini untuk berbagi informasi.


2 comments:

Bottom Ad [Post Page]

|Havid Adhitama|