Evolusi Religi Hulu Serayu, Pelan Tak Secepat Pesisir

Salah Satu Spot Semedi di Hulu Sungai Serayu, Dieng.

Jika dikatakan bahwa masyarakat pantai relatif terbuka terhadap sesuatu yang baru dibanding daerah pedalaman, maka sepertinya hal itu terbukti di aliran sungai Serayu. Semakin ke hulu, tingkat kekunoan religi warganya terlihat, begitu pua sebaliknya semakin ke hilir maka religi masyarakatnya cenderung berubah. Di daerah Tuk Bimo Lukar, di kawasan Dieng, masih terdapat aneka kepercayaan. Wajar jika Dieng memilih tag line “The Mistique of Java”. Karena memang hal-hal mistik masih dipercaya dan dipegang teguh oleh masyarakatnya. Hal itu diperkuat dengan tempat-tempat yang banyak dianggap keramat atau dikeramatkan oleh warga sekitar.

Namun semakin ke bawah aliran sungai Serayu, ternyata berubah. makin sedikit hal mistik dan tradisi kuno yang diyakini masyarakatnya. Misalya jika di Dieng hingga daerah Desa Jojogan masih banyak tradisi kesenian yang menggunakan gending (alat musik Jawa), maka di Desa Parikesit, hal itu bahkan sudah tidak boleh lagi dilakukan. Menurut salah satu warga Desa Parikesit, keberadaan kesenian Jawa kuno seperti tari-tarian dan wayang akan mengakibatkan pageebluk bagi warga Parikesit, jika diadakan kesenian kuno semacam itu, biasannya akan ada banyak kematian beruntun sehingga di Parikesit tidak ada kesenian semacam itu. termasuk jika ada topeng monyet yang datang kesini pun akan dilarang untuk memainkan topeng monyet di sini. 

Hal itu terjadi juga di desa yang lebih bawah, Kejajar. Di daerah itu, tradisi-tradisi kejawen sudah banyak ditinggalkan, berganti dengan tradisi keislaman. salah satu warga Kejajar mengungkapkan bahwa dulu di daerahnya memang pernah ada tradisi kejawen seperti memandikan ibu-ibu hamil di Kali Bayi pada usia kehamilan tertentu, ada makam kuno yang dijadikan tempat semedi, namun kini semua itu sudah hilang. Ia juga mengatakan semasa kecilnya sering "ngucing" atau mencuri sesaji dan  di makam desanya juga dulu pernah ada arca berbentuk badan singa dengan kepala manusia, serta gajah duduk. Semua itu kini hilang karena dijadikan tempat bersemedi sehingga dianggap musrik oleh warga Kejajar.

Semakin ke bawah, seperti di Garung dan Desa Siti Harjo, bahkan terdapat pondok pesantren dan didominasi oleh kaum nahdliyyin. Hal itu menunjukkan, evolusi religi di sepanjang Serayu memang terjadi. Narasumber: Heni P, Writed and Posted by Havid Adhitama.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Evolusi Religi Hulu Serayu, Pelan Tak Secepat Pesisir"

Post a Comment