Dieng, Hidup Dalam Ancaman

Briefing bersama rescuer SAR BPBD Banjarnegara

Februari yang lalu, saya mengunjungi kantor BPBD (Badan Penanggulangann Bencana Daerah)  Banjarnegara yang terletak di jalan Gotong royong atau disebelah timur TRM Serulingmas, awalnya saya ingin meminta peta Topografi atau peta rupa bumi yang berisi informasi kontur/relief dan ketinggian wilayah untuk kecamatan Wanayasa dan Batur sebagai data penelitian saya tentang daerah resapan air, tetapi ternyata di BPBD tidak memilikinya melainkan peta tersebut berada di DPU Banjarnegara.

Karena tidak ada, Pak Herman Satmoko (Rescuer SAR) menunjukan saya sebuah peta yang berjudul VOLCANIC HAZARD MAP OF DIENG VOLCANO  atau Peta rawan bencana kawasan gunungapi Dieng, dalam peta ini terpampang jelas zona-zona paling beresiko terdampak bencana jika suatu saat gunungapi Dieng bergejolak. titik pusat aktifitas vulkanik gunung Dieng ini ternyata berada Kawah Timbang, desa Sumberejo atau sebelah timur pusat kecamatan Batur, Banjarnegara.
 
VOLCANIC HAZARD MAP OF DIENG VOLCANO dok. Penulis
Beliau juga menjelaskan bahwa dahulu pegunungan Dieng merupakan sebuah gunung purba yang membentang luas dan sangat aktif yang kemudian meletus hingga seluruh tubuh dari gunung tersebut  hilang dan hanya menyisakan kawah-kawah yang sekarang menjadi objek wisata. Dari letusan di masa lampau, masih tersisa patahan/retakan gunungapi Dieng yang secara diam-diam mengintai dan sangat berpotensi mengancam keselamatan  penduduk Dieng, yaitu garis vulkanik yang membentang dari sekitar  Sumberejo melewati kawah Timbang  ke arah utara dan melewati kawah Sinila dan sedikit ke timur melewati kawah Candradimuka dan melewati Kawah Sikidang, atau dengan kata lain daerah yang rawan yaitu desa Sumberejo-Pekasiran-Karang tengah-Dieng. di garis patahan tersebut masih terus dipantau karena memiliki kemungkinan bererupsi ataupun mengeluarkan gas beracun (CO2).
Peta Patahan (garis hitam)


Peristiwa Kawah sileri yang meledak dan menyemburkan lumpur dingin dan mengenai 10 wisatawan itu mengingatkan saya pada apa yang dikatakan Ahmad Tohari, seorang Budayawan dan penulis yang mengisi acara Kongres Gunung di Kutabawa, Purbalingga atau tepatnya berada di lereng gunung Slamet. Ia mengatakan bahwa Gunung merupakan sahabat manusia, dari gunungapi, perekonomian penduduk sekitar sangat  terpengaruhi dari sektor pariwisata hingga petanian semuanya dapat menghidupi masyarakat. Ia menegaskan bahwa kata “Menaklukan Gunung”  tidak  boleh dipakai  karena tadi, gunung merupakan sahabat manusia, ia seharusnya di rawat dan dijaga dari kerusakan. Eksploitasi SDA boleh dilakukan tetapi harus mempertimbangkan seluruh aspek berkelanjutan.
  
Kongres Gunung, Desember 2016 Kutabawa, Purbalingga dok.penulis

Kita dapat melihat contoh yang nyata, di Dieng hampir seluruh aspek  dapat di manfaatkan dengan baik dari Panas bumi yang dimanfaatkan sebagai sumber energi, bentang alam yang mengagumkan  dan aktifitas vulkaniknya yang dapat dimanfaatkan untuk pariwisata, tanah vulkanik yang sangat subur untuk tanaman dalam pertanian, hingga jejak-jejak peradaban kunonya yang menjadi daya tarik tersendiri. Di Dieng, hubungan antara bentang alam dan kehidupan Sosial budayanya sangat jelas terlihat.


Meskipun memiliki potensi yang sangat luar biasa, ancaman bahaya tetap mengintai dan dapat bergejolak setiap saat, hanya allah yang tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, manusia hanya dapat memperkirakan melalui ilmu pengetahuan. Segala hal memilik hubungan kausalitas, pasti memiliki hubungan sebab akibat. Jika alam bermasalah pasti ada yang salah pada diri kita sebagai manusia, lihatlah diri kita sebelum menyimpulkan hal lain.

Subscribe to receive free email updates:

2 Responses to "Dieng, Hidup Dalam Ancaman "

  1. Makasih ka, informatif banget nih. Jadi tahu kalau dieng itu dulunya gunung purba..

    ReplyDelete