Off-Road Ke Zona Merah, Perbatasan Banjarnegara - Batang

Aerialshoot  quadcopter
Kali ini saya akan menceritakan pengalaman saya ketika Offroad ke daerah konflik yang berada di perbatasan antara kabupaten Banjarnegara dengan kabupaten Batang.  sebenarnya artikel ini sudah saya tulis 1 tahun yang lalu, tetapi untuk menghindari hal-hal yang tidak di inginkan, akhirnya saya tunda dan baru bisa memosting hari ini.

Awalnya, saya datang ke kantor BPBD Banjarnegara untuk meminta peta topografi yang digunakan untuk melengkapi data  penelitian di ekstra KIR (karya ilmiah)  tentang pertanian di daerah hulu sungai Serayu. kebetulan saya bertemu dengan bapak Herman Satmoko, salah satu  rescuer SAR yang juga menjadi pembina  ekstra kurikuler Pecinta Alam di SMA 1 Banjarnegara. Karena  peta yang saya cari tidak ada di BPBD Banjarnegara, akhirnya kami hanya berbincang-bincang  dan pak Herman menceritakan tentang permasalahan yang terjadi di Kecamatan Batur yang berkaitan dengan daerah Resapan air di Hutan terbis.

Hutan Terbis ini berada di perbatasan antara kecamatan Batur kab. Banjarnegara dengan kecamatan Blado Kab. Batang.  Konflik ini terjadi karena hutan lindung  milik Perhutani yang juga sebagai daerah resapan air bagi warga Batur dialihfungsikan menjadi lahan pertanian oleh warga Wanapriya.  sehingga setiap musim kemarau warga Batur kesulitan mendapatkan air bersih, dari situlah konflik terjadi.
Sisa-sisa kayu di lahan yang baru di buka
Menurut warga Batur, petani  di Wanapriya melakukan alih fungsi atau membuka lahan dengan izin yang kurang jelas  dari pemerintah.

Sebenarnya, pembukaan lahan untuk pertanian adalah hal yang sah-sah saja karena SDA di Indonesia memang sepenuhnya untuk kesejahteraan rakyat indonesia. Pembukaan lahan pertanian tersebut sangat jelas dampaknya bagi perekonomian petani di lokasi. Tanah yang subur menghasilkan tanaman yang berkualitas dan memiliki nilai jual tinggi dan secara tidak langsung akan mempengaruhi kehidupan masyarakat untuk lebih maju. Tetapi segala pemanfaatan SDA harus melalui tahapan perijinan yang sesuai dengan aturan dan selalu mengedepankan aspek berkelanjutan sehingga tidak menimbulkan kerusakan alam dan konflik sosial.

Lahan-lahan pertanian kentang yang baru di buka
Karena saya penasaran dengan kondisi hutan Terbis, saya putuskan untuk datang langsung dan sekaligus mencoba track offroad yang biasa dilalui oleh petani.
Pada saat itu saya hanya bersama dengan seorang teman yang rumahnya tidak jauh dari hutan terbis untuk menemani saya melihat kondisi lahan yang dialihfungsikan. Kami berdua membawa motor trail sendiri-sendiri. Dengan peralatan seadanya kami berangkat ke hutan Terbis yang jaraknya sekitar 15 KM dari rumah teman saya yang berada di desa Condong campur.
Kabut di track offroad - menuju wanapriya
Cuaca saat  itu gerimis dengan kabut yang pekat, tapi perjalanan tetap saya lakukan karena sudah terlanjur dipersiapkan.  Perjalanan dari desa Condong campur ke hutan Terbis melewati desa Pekasiran, dimana terdapat objek wisata telaga Sidringo dan kawah Candradimuka.
Track berlumpur 

Jalanan setelah desa Pekasiran berupa track tanjakan  tanah dan bebatuan yang licin dan terjal. kami melewati track offroad sekitar 1 jam. Ditengah track offroad, motor teman saya mengalami kendala yaitu stasioner rantai patah karena selip diantara lumpur dan menghantam batu.  stasioner  rantai berfungsi memposisikan rantai, karena patah akhirnya rantai selalu lepas dari gear belakang. Kami memutuskan untuk meninggalkan motor tersebut dan melanjutkan perjalanan dengan berboncengan karena lokasi yang kami tuju sudah dekat.
Stasioner rantai patah
dan setelah sampai di hutan Terbis, saya kaget karena disana tidak terdapat satupun pohon besar yang masih berdiri. Sejauh mata memandang hanya ada tanaman kentang dan beberapa tanaman palawija. Tatapan bingung saya teralihkan ketika datang beberapa petani yang menanyakan  tentang maksud dan tujuan kami kesini.

Kemudian saya menjelaskan bahwa kedatangan kami berdua hanya untuk offroad semata, alasan tersebut dipekuat karena teman saya menggunakan jersey klub offroad di Dieng yang cukup popular, Sehingga rasa 'penasaran' mereka mulai hilang dan Mereka meninggalkan kami. 

Tetapi kemudian,  mereka malah seperti berkumpul dengan petani lainya. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan kami hanya sebentar berada di atas lahan tersebut karena petani-petani tersebut terus mengawasi aktivitas saya dan teman saya dari kejauhan.
kondisi hutan Terbis setelah alih fungsi lahan
Setelah selesai mengamati dan mengambil beberapa foto, kami putuskan untuk langsung  pulang karena suasana yang kurang kondusif (atau mungkin ini hanya suudzon kami berdua) .  Untuk stasioner motor teman  saya   tadi, akhirnya diakali dengan memasang besi kecil untuk menjaga posisi rantai.   Alhamdulilah kami pulang dengan selamat.  

*Postingan ini tidak bermaksud  untuk memihak ataupun menjelekan  pada pihak manapun, karena penulis tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.  postingan ini hanya sekedar menceritakan pengalaman pribadi penulis ketika melakukan perjalanan. penulis tidak memiliki pengaruh ataupun keterkaitan dengan permasalahan yang terjadi. dan perjalanan ini hanya bertujuan untuk fun offroad semata.



tanah subur - organik


Telaga Sidringo ketika kabut

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Off-Road Ke Zona Merah, Perbatasan Banjarnegara - Batang"

Post a Comment