Journey must be writed!

Expedition

Post Page Advertisement [Top]

DiengFeature

Trial And Error Membangun Stasiun Cuaca Dieng

 

Tahun 2020 mungkin menjadi tahun yang sulit bagi banyak orang, selain harus survive dari infeksi virus corona, mereka juga mesti survive dalam mencukupi kebutuhanya. Saya merasa sangat beruntung dimana situasi ini tidak berdampak pada saya secara langsung. Sebuah privillage yang mesti saya syukuri karena masih diberi kesempatan untuk bernafas dan bisa menulis ini di sini.

 

Tidak terdampak? Tentu saja tidak sepenuhnya seperti itu, kuliah reguler saya diganti dengan kelas online sejak Maret 2020, namun itu menjadi kesempatan yang luar biasa untuk saya mempelajari  hal-hal baru. Banyak waktu luang dan kesempatan yang sangat luas dimasa pandemic seperti ini.

 

Setelah bulan januari mendapat lisensi amatir radio untuk eksperimen frekuensi  dari SDPPI Kominfo yang berlaku secara internasional, saya memulainya dengan eksperimen iseng dirumah. Berbekal kit mikrokontroler hibahan dari salah satu rekan di PLN Jawa barat, saya memulainya dengan memprogram untuk membaca sensor sederhana, temperature dan kelembapan.

 

Di percobaan pertama saya berhasil untuk read data dari sensor tersebut. karena excited, saya mengunggahnya ke grup AMSAT ID, yaitu organisasi yang mendukung dan mengembangkan teknologi keantariksaan, AMSAT di Indonesia berafiliasi dengan LAPAN dan ORARI. Saya tahu, ini adalah hal yang sangat basic dalam elektronika, di grup tersebut beranggotakan developer satelit dan pelopor teknologi di Indonesia, tetapi mereka merespon positif dan malah mereka membuat challenge untuk saya.

 


Semakin semangat untuk mengeksplor lebih dalam, mereka “menantang” saya untuk bisa mengirimkan data sensor tersebut ke gateway APRS, yaitu Automatic Packet Reporting System yang sederhanya “SMS analog lewat Radio”. Saya terima tantangan tersebut, dengan kit seadanya, saya mulai surfing di internet untuk mencari refrensi. Setelah menemukan yang relevan, saya kaget ternyata laman yang saya temui juga milik salah satu anggota AMSAT-ID, yaitu om benny YC0SPU.

 

Sangat kebetulan, kemudian saya kontak dan konsultasi terkait pemrograman serta konfigurasi sensor yang digunakan. Banyak sekali bug dan struggle dalam konfigurasi tersebut. Hingga akhirnya jadilah prototype pertama, Stasiun cuaca APRS yang terintegrasi ke website dengan protokol MQTT.

 

Prototype tersebut saya unggah ke Facebook dan random saja Kepala UPT Dinas Pariwisata Dieng yang sekarang menjabat Kepala Sie Perencanaan, Pak Aryadi Darwanto berkomentar meminta untuk dipasang di Dieng.

 


Makin excited lah saya untuk membuat alat tersebut lebih serius. Beruntung, bulan Juni 2020 Dieng hampir tidak ada wisatawan karena memang objek wisata disana masih tutup karena tanggap daruat covid. Saya merasa aman karena minim orang di Dieng ketika survei dan berdiskusi dengan Pak Aryadi serta rekan saya Razin. Dan akhirnya disepakati data dari stasiun cuaca tersebut diintegrasikan juga ke web UPT Dieng yang kami bangun pada 2019 yang dulu dibuat untuk memudahkan wisatawan mengakses data sejarah tiap objek di Dieng. Diengbanjarnegara.com

 

Setelah pertemuan tersebut, saya menyempurnakan WX Station versi pertama yang masih berupa box panel, sehingga alat tersebut kami pasang di teras kantor UPT. Setelah jalan sekitar 2 minggu, ternyata para penghobi fotografi dan wisatawan yang berburu embun es pada saat itu sangat mengapresiasi dan merasa terbantu. walaupun di versi pertama akurasinya belum 100% karena lokasinya yang masih di bangunan, sehingga masih ada selisih suhu di lapangan dengan sensor kami.

 


Mereka merasa terbantu karena untuk mengaksesnya sangat mudah, informasi Temperatur, Kelembapan udara serta tekanan udara bisa di cek seacara real time pada laman Diengbanjarnegara.com/cuaca-dieng ,  via Google Maps APRS APRS.FI atau melalui aplikasi Android yang dikembangkan oleh rekan saya Razin, yang saat ini bisa di download pada playstore.

 

Stasiun cuaca versi pertama ini kami jadikan benchmark untuk kalibrasi suhu real dan suhu yang diukur. Akhirnya untuk versi kedua kami membuatnya menjadi outdoor. Dan disini pengukuran benar-benar menjadi real feels, kami kalibrasi dari tempat hingga data outputnya dengan mencocokan hasil pengukuran sensor dengan thermometer alcohol.

 

Namun, versi 2 tidak bisa bertahan lama. 4 hari setelah dipasang sensor barometric kami mati karena beku, data terakhir yang terekam yaitu minus 2 derajat celcius. Saya heran karena dalam datashet sensor tersebut semestinya bisa bertahan pada suhu minus 40 derajat, karena sensor yang kami pakai sudah space grade atau sama dengan sensor barometric tiga pengukuran pada satelit.

 

Akhirnya setelah mengetahui permasalahan tersebut, Stasiun cuaca ini saya desain ulang agar lebih tahan terhadap suhu ekstrem dan tentu tahan terhadap cuaca. Saya membuat case dengan bahan PVC yang diberi braket agar mikrokontroler dan sensor bisa terpasang secara aman tetapi tidak mempengaruhi kerja sensor.

 

Selain case tersebut di desain weatherproof, bagian mikrokontroler juga diberi lapisan insulasi dari sterefoam dan silica gell agar tidak lembab atau basah terkena embun. Alhamdulilah setelah redesain tersebut stasiun cuaca bisa berjalan normal dan sudah 100% akurat untuk mengukur suhu minus Dieng ketika terjadi mbun upas.

 


Dari laporan review di playstore, mereka sebagai wisatawan merasa terbantu dengan kehadiran stasiun cuaca ini. Sebab, mereka yang ingin merasakan sensasi Dieng dengan suhu minus tidak lagi gambling dengan kemunculanya. Dengan alat ini, kemunculan embun es bisa diprediksi, biasanya ketika pukul 10 malam sudah menunjukan temperature pada 4 derajat ke bawah, maka bisa dipastikan keesokan harinya akan muncul embun es di Dieng. Dengan catatan tidak ada angin yang bertiup kencang disana.

 

Dalam pengembangnya kedepan, output dari stasiun cuaca  ini akan disempurnakan dengan  mengolah algoritma cuaca agar bisa memprediksi cuaca secara akurat. Namun ini masih wacana, sebab kami memiliki keterbatasan dalam interpretasi dan membaca data meteorologi. Karena ini sebatas manifestasi dari hobi oprek.  mungkin jika diantara pembaca ada yang memiliki pengetahuan interpretasi klimatologi, dan mau sukarela untuk membantu kami, kami sangat terbuka. bisa kontak saya melalui email atau dirrect masage.

Kami juga tidak menyangka bahwa respon masyarakat setempat sangat positif terhadap stasiun cuaca yang kami buat. Selain menjadi daya Tarik wisatawan, ternyata petani disini juga ikut memanfaatkanya sebagai penyelamat tanaman kentang milik mereka. Setau saya, Mbun upas/ mbun es sangat merugikan bagi petani kentang. Sebab, tanaman kentang akan mati ketika daunya beku. Namun saya baru tau bahwa tanaman kentang yang beku bisa diselamatkan dengan cara menyiramnya menggunakan air di pagi hari sebelum subuh.

 

Dari penuturan petani yang saya temui, pada tahun-tahun sebelumnya mereka selalu was-was dan siaga ketika musim kemarau, mereka khawatir tanaman kentang mereka beku sehingga mesti mengeceknya secara rutin ke kebun sebelum subuh. Namun semenjak bulan Juli ketika alat ini publish, mereka bisa memprediksi esok hari muncul embun es atau tidak hanya dari aplikasi kami. Mereka tidak perlu mengeceknya secara langsung ke kebun. Dan jika pada malam hari sudah muncul indikator muncul embun es, mereka jadi lebih siap untuk mempersiapkan peralatan menyiram tanaman pada  esok hari, seperti diesel pompa air, selang dan tentu tenaga untuk itu.

 

Saya sangat berterimakasih pada rekan-rekan atau instansi yang mengapresiasi karya kami, terutama pak Aryadi Darwanto yang sangat terbuka dalam pengembangan ini, termasuk support material yang kami perlukan.

 

Juga rekan amatir radio yang mensupport secara teknis, Ketua ORARI Jawa tengah pak Praharto YB2BZ, Ketua ORARI Lokal Banjarnegara pak Harsono YB2JXC, Bu Uut Kepala UPT Dieng serta pak Agung Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten  Banjarnegara yang telah mempersilakan dan membuka pintu lebar untuk pengembangan inovasi dari Amatir radio di Dieng.

 

Tentu juga rekan-rekan media yang turut mempublish karya iseng kami disini, Metro TV, Liputan 6, Detik, Suara Banyumas, dan RRI.

1 comment:

Bottom Ad [Post Page]

|Havid Adhitama|