Journey must be writed!

Expedition

Post Page Advertisement [Top]

Feature

90 Hari Menyusuri Bebatuan di Lokasi Terpencil Kampus Mengajar!

 




Sebelum saya bercerita tentang kegiatan saya mengikuti program Kampus Mengajar Angkatan 1 tahun 2021 yang diselenggerakan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Riset dan teknologi. Saya ingin mengenalkan diri saya terlebih dahulu, nama saya Havid Adhitama, biasa dipanggil Havid dan juga dipanggil CLX oleh teman organisasi. Mahasiswa UNNES yang masuk pada tahun 2018 dan berumur 20 tahun pada saat saya menulis ini.

 

Jika membahas awal mula kenapa tertarik dengan program Kampus Mengajar ini, maka jawaban saya adalah ingin skip PPL dan KKN. Bagi saya hal tersebut  sangat menarik, kenapa? Karena melihat kakak tingkat yang melaksanakan KKN dan PPL di situasi seperti ini sangat tidak menyenangkan. Kegiatan KKN hanya berupa update story di Instagram dan PPL mengajar siswa melalui zoom. Bagi mahasiswa semester atas seperti saya hal tersebut merupakan hal yang challenging karena mesti improve dengan situasi yang tidak stabil. Berbeda ketika KKN dan PPL offline yang bisa jadi akan membuat kesan baru ketika kita melaksanakanya bersama-sama.

 

Begitu saya mendengar statement dari fakultas saat sosialisasi yang intinya peserta kampus mengajar akan mendapat konversi 12 SKS dan bisa direkognisi menjadi nilai KKN, PPL dan Mata kuliah. Saya langsung tertarik, walaupun belum ada gambaran apapun untuk kegiatan dari program ini. semangat? Sebenarnya biasa saja, sebab ketika pendaftaran lumayan pesimis melihat antusiasme pendaftar dari teman satu jurusan yang banyak sekali, apalagi mereka yang memiliki banyak sertifikat pengalaman organisasi juga setifikat pengalaman mengajar.

 

Saya yang tidak memiliki dokumen pendukung seperti sertifikat pengalaman organisasi dan juga pengalaman mengajar, akhirnya hanya melampirkan IAR, Izin Amatir radio. Memang tidak relevan, tidak bisa disejajarkan dengan sertifikat yang diminta. Tetapi yakin saja, sebab Surat Izin Amatir radio tersebut menjadi bukti saya menjadi anggota organisasi amatir radio Indonesia, ORARI. Sebuah organisasi hobi yang bernaung di bawah Kemkominfo dan memiliki kredensial izin yang bisa dipakai secara internasional.

 

Private tour ke Ground Station LAPAN


Di atas sempat saya singgung terkait Havid juga sering dipanggil CLX, ya lengkapnya YD2CLX adalah callsign atau nama udara saya yang sekaligus menjadi izin ketika memancar di berbagai pita frekuensi radio. Callsign ini terdiri dari 3 bagian yaitu Prefix YD (dibaca: Yangke Delta) yang menunjukan saya berasal dari Indonesia, kemudian call area 2, menunjukan berasal dari Jawa tengah di mana di Indonesia dibagi menjadi 9 call area, dan juga CLX (di baca: Carlie Lima X-ray) yang merupakan suffix atau seri unik yang menjadi pembeda antar amatir radio lainya.

 

Callsign YD2CLX saya dapatkan pasca mengikuti ujian negara amatir radio yang diselenggarakan oleh Balai monitor spektrum radio Kominfo. Jika ditanya apa fungsinya? Sebenarnya itu hanya untuk kepentingan hobi. Namun dengan izin tersebut saya mendapat sangat banyak privilege yang tidak pernah saya duga sebelumnya, termasuk akses izin menggunakan satelit milik LAPAN yang akan saya ceritakan nanti terkait dengan salah satu aktivitas kampus Mengajar. Dengan callsign ini saya bebas melakukan eksperimen untuk membuat berbagai perangkat otomasi maupun telekomunikasi yang menggunakan gelombang radio, berkomunikasi lintas benua dengan radio High Frequency atau untuk giat sosial melakukan dukungan komunikasi ketika terjadi bencana.

 

Saya tidak begitu aktif mengikuti kegiatan-kegiatan di kampus, lebih menyukai kegiatan eksternal yang menunjang hobi. Selain hobi elektronika dan radio, saya juga mengelola blog saya sendiri Northbackpacker.com yang saya kelola sejak SMP untuk menulis berbagai cerita perjalanan saya ketika menjelajah tempat-tempat baru. Saya juga tegabung dalam GenPI atau generasi pesona Indonesia yang berada di bawah Kemenparekraf saat ini, atau di bawah Kemenpar pada saat era Menpar Arief yahya menjabat. GenPI ini berfokus pada promosi destinasi wisata secara digital, saya menjadi salah satu blogger diantara vlogger, videographer dan desainer.

 

Setelah mengirimkan berkas pendaftaran di web kampus merdeka, selang beberapa hari pengumuman mahasiswa yang lolos seleksi tahap 1 dirilis. Saya lolos tetapi masih mesti melewati tahap 2, di tahap 2 ini para pendaftar mesti mengikuti survey kebinekaan. Tidak tahu ini menjadi parameter penting dalam seleksi atau tidak, sebab jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan jawaban terbuka yang subjektif setiap individu. Alhamdulilah, saya lolos di seleksi final, begitu lolos langsung muncul SD lokasi saya ditempatkan.

Saya, bersama Tim

 

Saya ditempatkan di SD Negeri 4 Kalisatkidul, Kecamatan Kalibening, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Bukan daerah yang asing bagi saya, mendengar kata kalisatkidul, sebab lokasinya hanya beberapa kilo meter dari tempat tinggal saya. kemudian, saya mulai mencari rekan satu lokasi penempatan di grup whatsapp daerah, dalam waktu singkat langsung terkumpul semua. Ya, saya bersama 6 mahasiswa lain yang ditugaskan di SDN 4 Kalisatkidul.

 

Setelah pengumuman tersebut, kami mengikuti pembekalan selama 1 minggu, pembekalan ini sebenarnya urgent, tapi bagi mahasiswa pendidikan seperti saya ini merupakan hal-hal basic dalam mengajar jadi saya tidak menyimak kegiatan ini dengan sempurna. Mestinya, mahasiswa non-pendidikan akan mendapatkan hal baru yang esensial ketika di lapangan, sebab kampus mengajar ini tidak memandang jurusan. Semua jurusan boleh mendaftar.

 

Pembekalan berlangsung selama satu minggu, kemudian tepat 22 Maret 2021 kami resmi diterjunkan ke lapangan oleh Mendikbud Nadiem Makarim, dengan bekal beberapa dokumen, keesokan harinya kami diarahkan untuk meminta surat penugasan dari dinas pendidikan setempat sebelum meminta izin ke SD sasaran. Di situlah kami bertemu dengan satu tim secara perdana, namun ternyata tidak lengkap. Harusnya kami bertujuh, tetapi hanya ada kami berempat yaitu Ismi, Faris dan Dwi. 3 mahasiswa lain ternyata memiliki domisili yang lumayan jauh dari Banjarnegara, seperti Semarang, Kabupaten Semarang juga Temanggung. Sehingga mereka bertiga yang bukan berasal dari Banjarnegara akhirnya mengajukan pindah lokasi SD penempatan melalui dosen pembimbing.

 

Akhirnya, kami di SDN 4 Kalisatkidul hanya berempat, yaitu Faris dari Universitas Pendidikan Indonesia, Dwi dari Universitas Ahmad Dahlan dan juga Ismi dari UNNES yang kebetulan dia merupakan teman sewaktu SMP. Di Kantor dinas pendidikan kabupaten, kami mendapatkan surat tugas untuk melakukan kegiatan di SD. Nah, baru keesokan harinya kami menuju SDN 4 Kalisatkidul. Namun ternyata tidak sesuai ekspektasi, saya membayangkan SD tersebut berada di dekat pusat desa Kalisatkidul, dimana saya pernah melewati desa tersebut.

 

Track Menuju SD

Ternyata, SDN 4 Kaisatkidul berada jauh dari pusat desa, tepatnya berada di dusun Susukan, tidak ada jalan akses langsung dari desa Kalisatkidul ke dusun Susukan, kita mesti memutari gunung wirosapu untuk mencapai lokasi SD. Kami berempat kaget, sebab tenyata jalan menuju desa tersebut berupa track offroad yang belum di aspal dengan kontur jalan naik dan turunan curam. Tidak pernah terbanyangkan sebelumnya jika di Banjarnegara masih ada pemukiman yang memiliki akses yang sulit seperti ini.

 

Kami tidak hanya kaget karena jalan yang mesti kami lewati terjal, namun begitu kami sampai di lokasi SD, ponsel kami tidak lagi berguna, sinyal GSM tidak ada sama sekali, saya berulang kali melakukan refresh jaringan hasilnya nihil, mustahil untuk mengakses internet, untuk SMS saja tidak bisa. Akhirnya kami sejenak melupakan hal tersebut, kami bergegas masuk kantor dan menemui kepala sekolah di SD tersebut. Kami bertemu dengan kepala sekolah, menjelaskan maksud dan tujuan kami, kemudian memaparkan rencana kegiatan yang akan dilaksanakan selama 3 bulan kedepan. Kepala sekolah dan guru menyambut dengan baik atas kedatangan kami. Untuk itu kami mulai mempersiapkan berbagai hal untuk mulai aktif mengajar di SD.

 

Lokasi Berada di Ketinggian 1230 mdpl

SD Negeri 4 Kalisatkidul hanya terdapat 3 kelas, yaitu kelas 1,2 dan 3 dengan total siswa sebanyak 20. Sangat sedikit, guru kelas PNS hanya ada 1, itupun baru diangkat beberapa bulan sebelum kedatangan kami. Cerita dari penjaga sekolah, sebelumnya siswa sering datang ke sekolah namun tidak ada guru yang datang. Sebab guru sebelumnya merupakan tenaga honorer. Meskipun begitu, semangat anak-anak untuk belajar sangat tinggi, mereka selalu meminta PR kepada kami setelah usai pelajaran. Sebuah fenomena langka, dimana siswa meminta PR agar mereka bisa mengerjakan tugas di rumah. Cukup memperihatinkan kondisi di SD ini, kadang siswa datang ke sekolah tidak memakai seragam, hanya memakai sendal, dan mandi bukanlah hal wajib di sini. Tapi kami mencoba memaklumi karena keterbatasan dan kondisi sosial ekonomi di daerah ini.

 


Kami melaksanakan berbagai program yang merujuk pada tema inti yaitu literasi, numerasi dan alih teknologi. Kami mecoba memberikan pengajaran yang sesuai dengan kurikulum agar siswa dapat mengikuti pembelajaran sesuai dengan standar di Banjarnegara khususnya. Sebenarnya kami melaksanakan program kampus mengajar normal saja seperti peserta lain di seluruh Indonesia, namun SDN 4 Kalisatkidul mendadak menjadi sorotan dari panitia dan kementrian.

 

Sebenarnya ini berawal dari hal yang iseng saja, salah satu kegiatan saya di rumah yaitu melakukan QSO atau komunikasi dengan rekan-rekan amatir di berbagai negara tetangga menggunakan Voice Repeater Satelit IO-86 atau satelit LAPAN A2-ORARI. Ini bukan hal yang baru bagi saya, hampir setiap hari ketika senggang saya melakukan kontak ketika satelit mengorbit di atas lokasi saya. biasanya hanya untuk berkabar sapa dengan teman-teman dengan perangkat radio yang sangat simpel.

 

Antena Moxon rakitan untuk komunikasi Satelit

Voice repeater satelit IO-86 ini juga bisa digunakan untuk berkirim gambar dengan fitur SSTV, voice repeater ini selain untuk komunikasi reguler, juga selalu digunakan ketika terjadi bencana. dengan satelit ini para amatir radio bisa melakukan kontak dengan dunia luar tanpa tergantung dengan infrastruktur telekomunikasi digital terrestrial. Sehingga ketika terjadi bencana dan akses telekomunikasi biasa tertutup, kita ataupun mereka masih bisa tetap berkomunikasi.

 

Pemanfaatan dan pengelolaan satelit ini berada di bawah LAPAN secara langsung, namun memiliki wadah tersendiri bagi para penggiat Amateur satellite, yaitu AMSAT-ID, salah satu organisasi turunan dari ORARI yang fokus pada bidang pengembangan dan pemanfaatan satelit amatir radio. Nah, mengingat di SDN 4 Kalisatkidul benar-benar tidak bisa mengakses internet sama sekali, terbersitlah saya untuk melakukan ujicoba berkirim dan menerima media pembelajaran melalui satelit LAPAN A2 dengan mode SSTV.

 

Kontak dengan Satelit IO-86 / LAPAN A2

Sore itu, saya mengirimkan pesan ke grup AMSAT-ID untuk menanyakanide saya terkait bagaimana jika salah satu passing satelit dimanfaatkan untuk SSTV, semua orang di grup mempersilakanya namun tetapi dari LAPAN malah menyarankan agar saya di berikan slot khusus untuk aktivasi SSTV ini, makin semangat saya ketika LAPAN support maksimal kegiatan kami. Akhirnya saya berkoordinasi dengan kepala bidang desimininasi pusteksat LAPAN, Om Wahyudi Hasbi YD1PRY  juga Om Sony YC1SCC terkait waktu orbit dan juga elevasi yang optimum untuk menerima sinyal pada frekuensi downlink di lokasi saya. setelah itu saya berkoordinasi dengan rekan saya dari AMSAT-ID yaitu om Yono YD0NXX, salah satu perakit dari satelit ini untuk mentransmisikan SSTV media pembelajaran tersebut di waktu yang sudah di sepakati.

 

Setelah koordinasi tersebut usai, tibalah kami eksekusi ujicoba ini. dengan set up sederhana, saya hanya menyiapkan HT dual band, antenna moxon, dan juga ponsel android dengan aplikasi decoder SSTV. Saat satelit melintas pada jadwal yang sudah di sepakati, kami berempat bersama guru dan kepala sekolah mencoba menerima sinyal SSTV yang di transmisikan pada frekuensi downlink satelit IO-86 yaitu 435.880mhz. dan gambar tersebut kami terima dengan sempurna.

 

Kegiatan tersebut saya unggah di sosmed, ternyata ada beberapa wartawan yang melihat dan ingin menaikan berita perihal kegiatan kami, dengan senang hati kami jelaskan apa yang kami lakukan dengan ujicoba ini. dan berita tersebut lumayan ramai diperbincangkan, termasuk di kalangan orang-orang pusteksat. Pada akhirnya berita tersebut sampai hingga ke kementrian, selang beberapa jam pasca berita tersebut rilis, saya di hubungi oleh bu Fia dari Ditjen SD Kemendikbudristek yang intinya menanyakan kegiatan yang kami lakukan, kemudian ia meminta saya mengikuti pembuatan konten sharing bersama bu Sri Wahyuningsih selaku direktur sekolah dasar di kanal youtube Kemendikbudristek.

 

Zoom Sesi Ngobrol Pintar dengan Ibu Dir. Sri Wahyuningsih

Pada intinya mereka sangat mengapresiasi kegiatan kami dalam mengatasi masalah tidak ada sinyal di lokasi SD penempatan. Peserta lain Kampus Mengajar dari daerah lain juga penasaran dengan SSTV satelit IO-86 ini, akhirnya saya melakukan sesi sharing melalui zoom, dan beberapa teman yang memiliki perangkat saya ajak untuk mencobanya pada jadwal reguler orbit satelit IO-86 ini. mereka sangat antusias dan makin tertarik dengan kegiatan ini.

Tidak disangka, ternyata kegiatan kami mendapat perhatian yang serius dari LAPAN juga dari Ditjen Dikti, sempat saya dikabari rekan bahwa kegiatan kami dijadikan proof of concept dari program Kampus mengajar ini, menjadikan kegiatan kami di SD sebagai bukti nyata bahwa Kampus Mengajar benar-benar membawa transformasi, terutama dalam bidang teknologi. Hingga akhirnya, saya berkesempatan untuk berbagi pengalaman dan berinterkasi secara langsung bersama jajaran Dirjen Kemendikbud pada acara pembukaan program Kampus Mengajar Angkatan 2 tahun 2021.

 

Sesi tersebut dihadiri sekitar 1000 partisipan zoom dan 8000an streamer di youtube, yang lebih mengagetkan, saya diangkat menjadi Duta Kampus Mengajar Angkatan 1 2021, dan diajak oleh ibu Sekretaris jendral pendidikan tinggi Paristiyanti berkunjung ke Papua untuk mencari solusi atas permasalahan jaringan komunikasi untuk mendukung dunia pendidikan di sana. Saya sangat antusias dengan penghargaan dan kesempatan ini, walaupun sebenearnya saya tidak merasa pantas untuk dijadikan duta, sebab masih banyak peserta lain yang lebih kompeten dan memiliki effort dan inovasi yang lebih berdampak pada dunia pendidikan.

 

Pembukaan Kampus Mengajar Akt. 2

Harapan saya, program Kampus Mengajar ini terus berlanjut dan semakin berdampak, membawa perubahan-perubahan baru dari rekan mahasiswa untuk siswa-siswa di pedalaman yang menjadi harapan baru bangsa ini. Menginspirasi adik-adik di pedalaman yang tentu akan mendapat harapan baru ketika kita terjun dan menyentuh mereka secara langsung.

 

Atau minimalnya, kita sebagai mahasiswa menyaksikan secara langsung bagaiamana kondisi real pendidikan Indonesia di lapangan, menyaksikan kesenjangan sosial secara nyata, serta memahami pola-pola yang terjadi di tingkat paling bawah dari hierarki manajemen pendidikan di Indonesia. Dimana insight tersebut akan membawa diri menjadi pribadi yang lebih utuh, berpikir secara global dan jika suatu saat di masa depan kita memiliki daya untuk turut andil dalam pengentasan masalah tersebut, kita sudah memiliki pengalaman yang bisa dijadikan tolok ukur, agar kita semakin bijak dalam mengambil keputusan.



 

 

 

4 comments:

  1. Huwwwaaaaww masyaallah sekali..!
    Mas Havid sangat menginspirasi nih buat para mahasiswa dan anak muda jaman sekarang. Ketika gak ada sinyal, bukannya mengeluh malah bisa cari ide dan pantang menyerah. Baca antusias anak SD yang malah minta PR dan tetap berangkat sekolah dengan keterbatasan bikin Saya malu dengan diri sendiri. ada tugas bukannya dikerjain malah disambatin. Saya merasa desa saya susah dijangkau dari Kota, ternyata ada yang lebih sulit dijangkau padahal masih satu kabupaten. Good job deh buat pengingat selalu bersyukur dan jangan pernah nyerah. Padahal bisa aja mas Havid "asal selesai" untuk program kampus mengajar...

    But, ternyata anak Desa gak cuman ngomong ngapak ya, tapi udah bisa campur english :p (enyong be iya ding kui ana "But" and "Good job")

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasihh "the next menkeu" ... semogaa bisaa bikin prioritas anggaran pendidikan di menkeuu biar lebih tepat sasaran 😆

      Delete
  2. Luar biasa, smg menginspirasi yg lain

    ReplyDelete

Bottom Ad [Post Page]

|Havid Adhitama|