Pendakian gunung
Sumbing kali ini sedikit berbeda, saya memiliki misi khusus yaitu menguji
beberapa perangkat komunikasi off-grid yang sudah saya buat dan perlu field-test
di kondisi dan situasi nyata agar mengetahui fungsi dan durability serta
reliability dari perangkat yang saya buat.
Saya mendaki gunung Sumbing dengan ketinggian sekitar 3300 MDPL ini hanya berdua dengan rekan saya Agil. Kami melakukan persiapan matang dari fisik hingga logistik. Saya dan Agil melakukan latihan fisik selama 2 minggu sebelum melakukan pendakian ini, kami setiap sore lari di dataran tinggi Dieng yang memiliki ketinggian 2090 Mdpl, lokasi yang cukup ideal untuk latihan kardio di tekanan udara rendah.
Misi ini membawa 3 perangkat yang akan di test, yaitu Tracker APRS LORA, Tracker APRS VHF dan board Meshtastic Network. Pada artikel ini saya akan fokus mereview penggunaan Tracker APRS Lora VS Tracker APRS VHF, untuk board Meshtastic akan saya bahas pada artikel selanjutnya. Detail terkait apa itu APRS atau Automatic Packet Reporting System sudah saya bahas rinci di artikel sebelumnya yang berjudul "Seberapa Penting Teknologi APRS Digunakan di Era Saat Ini?".

Pada intinya APRS ini adalah sebuah protokol pengiriman paket data melalui radio, nah pada uji coba kali ini saya membandingkan antara APRS radio VHF dengan APRS Radio LORA untuk mengirim lokasi kami secara real-time ke web APRS agar posisi kami bisa terpantau secara langsung meskipun di area tanpa jaringan seluler. Kedua perangkat tersebut memiliki karakteristik yang berbeda. Saya buatkan tabel perbedaanya sebagai berikut:
|
Aspek Teknis |
APRS LoRa (ESP32 + Ebyte E22 400M30S) |
APRS VHF (Baofeng UV5R) |
|
Frekuensi |
432 MHz (UHF) |
144.390 MHz (VHF) |
|
Modulasi |
LoRa (Chirp Spread Spectrum) |
AFSK 1200 baud (AX.25) |
|
Daya Pancar Maksimal |
1 Watt (30 dBm) |
5 Watt |
|
Kecepatan Data |
0.3 – 5.4 kbps (SF 12) |
1200 bps (fixed) |
|
Antena |
Antena Patch PCB Bawaan |
Antena Standar UV5R |
|
Tahan terhadap Noise / Obstacle |
Sangat Baik |
Sedang |
|
Bandwidth |
125 khz |
25 khz |
|
Sensivitas Receiver |
Sangat baik (-148 dBm) |
Sedang (~ -120 dBm) |
|
Link Budget |
Sangat tinggi |
Sedang |
Untuk pengujian ini, hanya memosisikan kedua perangkat pada tas carrier saya tanpa posisi yang propper, ini bertujuan untuk menyimulasikan kondisi real ketika dipakai secara instan. Kedua board lora maupun VHF saya taruh di saku luar tas carrier 60 liter yang saya bawa seperti di foto berikut.
.jpeg)
Perjalanan ini
dimulai dari basecamp gunung Sumbing via desa Butuh, Kaliangkrik, Magelang. Tentunya
bukan tanpa alasan kenapa field-test ini dilakukan di Sumbing via Butuh
Kaliangkrik, yang pertama karena rute ini menghadap langsung ke arah tenggara,
di mana sisi ini menghadap langsung ke kota Yogyakarta dan area Solo raya. Di area
tersebut sudah terdapat 3 gateway aktif yang siap menerima paket APRS LORA,
antara lain gateway YE2YE, YD2SNK dan YD2CFW meskipun jaraknya sekitar 80 KM
lebih dari gunung Sumbing. Sementara untuk gateway APRS VHF di area Yogyakarta
sudah sangat massive dengan infrastruktur yang propper. Selain itu, saya
memiliki rekan warga lokal di sekitar basecamp, Bayu Widodo yang tentunya
mempermudah perjalanan kami untuk transit sebelum dan sesudah pendakian.
Kami berdua berangkat dari basecamp pagi hari sekitar pukul 07.30 WIB dengan menaiki ojek Sumbing yang terkenal ekstrem hingga plawangan pos 1. Tidak signifikan, tetapi cukup membantu mengantar kami hingga batas desa Butuh. di Plawangan tersebut, saya mulai set up untuk mengaktifkan kedua tracker yang saya bawa. Di posisi tersebut sinyal seluler sudah tidak ada sama sekali.
Untuk itu, saya menghidupkan HT dan cek beberapaa repeater. Salah satu repeater yang merespons saya adalah repater milik ORARI Daerah Istimewa Yogyakarta di frekuensi 146.760mhz duplex -600khz, di frekuensi tersebut direspon oleh om Winarto dan om Ayub YC2VCA. Kebetulan sekali om Ayub adalah RF Expert yang tentunya paham terkait cara kerja APRS, untuk itu saya meminta ke beliau mengecek posisi saya di APRS.FI guna memastikan apakah pancaran kedua tracker saya di jalur pendakian sudah masuk ke gateway apa belum.
Di komunikasi awal tersebut, om Ayub merespons dan mengecek bahwa kedua data APRS Tracker saya sudah sempurna terkirim ke gateway via YE2YE, dan posisi real-time saya sudah termonitor dengan akurat, di komunikasi via repeater tersebut om Ayub memfasilitasi saya dan rekan untuk membantu reporting posisi saya secara periodik selama perjalanan ke camp area. Beliau memonitor perjalanan kami selama dua hari. Di pendakian ini saya planning untuk mendirikan tenda di pos 4, dan summit keesokan harinya.
Kami sampai di Camp Area pos 4 gunung Sumbing sekitar pukul 15.00 WIB, Agil mendirikan tenda sementara saya menyiapkan makan siang, karena sepanjang perjalanan kami hanya makan energy bar saja. Setelah tenda terpasang kami mulai menata barang bawaan dan saya mengecek kondisi tracker VHF. Ternyata tracker VHF ini masih memancarkan data dengan baik sebagaimana mestinya, ketika saya monitor di frekuensi APRS VHF Terrestrial 144.390mhz, ternyata trafficnya sangat tinggi. Semua pancaran APRS diterima sangat rapat tanpa celah dan banyak sekali pancaran paket yang bertabrakan. Ini yang mebuat saya berasumsi bahwa tracker APRS VHF saya tidak dapat mengirim paket ketika sudah berada di ketinggian karena traffic APRS dari seluruh arah dapat terpantau.
Sementara APRS Tracker LORA masih mengirimkan datanya dengan sangat sempurna dan minim packet loss hingga di camp area pos 4 di ketinggian 3017mdpl, saya konfirmasi ke om Ayyub bahwa data yang terkirim via Tracker Lora sangat reliable. Kami full kordinasi melalui HT dengan om Ayyub di Bantul, Yogyakarta yang jaraknya sekitar 50 Km dari titik saya di Sumbing.
Di malam hari kami
full istirahat setelah masak untuk makan malam dan sholat isya. Kami memasak
ayam goreng dan nasi dari beras porang yang praktis. Cuaca malam hari sempat
gerimis tetapi tidak sampai membasahi camp area. Kami terbangun subuh hari dan
segera bersiap-siap, namun karena puncak terpantau masih berkabut kami putuskan
untuk naik sekitar pukul 07.00 WIB. Di camp Area pos 4 gunung Sumbing ini hanya
terdapat 2 tenda, tenda kami dan tenda milik pendaki dari Prancis.
Setelah kami siap untuk melakukan Summit Attack, saya menghidupkan kembali APRS Tracker Lora dan konfirmasi ke om Ayub sebelum kami bergegas. Data posisi dan ketinggian kami sudah termonitor di web APRS.FI dan kami berdua bergegas naik ke puncak. Kami summit hanya membawa tas kecil dan sedikit perbekalan, tenda dan segala peralatan kami tinggal di camp area.
Selang satu jam kami sudah sampai di puncak, cuaca sangat cerah dengan view samudera awan. Informasi dari om Ayub YC2VCA posisi kami juga terkirim dengan sempurna tanpa jeda melalui APRS Tracker LORA. Kami di atas melakukan uji coba berkirim SSTV secara dirrect di VHF dan UHF dengan om Ayub. Hasilnya cukup memuaskan. Dengan jarak 50 KM saya mengirimkan gambar melalui suara dengan HT Quansheng yang saya bawa. Setelah mengambil beberapa dokumentasi, kami sarapan dan ngopi sebelum turun ke Camp area.
Kesimpulan dari Field-test
perangkat APRS Tracker ini, LORA lebih unggul dan reliable untuk dipakai di
lapangan dengan kondisi nyata. Konsumsi daya dari tracker lora sangat rendah,
jika diakumulasikan dari berangkat hingga pulang, perangkat tracker nyala
sekitar 18 jam, dan powerbank saya hanya berkurang sekitar 30% dengan kapasitas
maksimum powerbank 10.000mAh. Setelah saya melihat screenshotan APRS.FI yang
dikirim om Ayub dan rekan lain yang memantau, koordinat kami benar-benar
terkirim secara akurat dan sempurna, loss packet sangat rendah terlihat dari
waypoint di peta, padahal jarak gateway dengan posisi kami sekitar 80 Km, dan
power Tracker Lora ini hanya 1 watt. Beberapa packet loss terjadi di area yang sempit seperti celah jurang
ketika kami melewati aliran air, lokasi tersebut memang tertutup.
Sementara itu, APRS Lora VHF menurut saya bukan gagal, sebab perangkat memang tetap berfungsi sebagai mana mestinya, hanya saja gangguan eksternal dan kondisi traffic yang tinggi membuat pengiriman data tidak selancar di UHF sepetti lora. Namun ini menjadi bukti untuk reliabilitas perangkat tracker lora maupun vhf untuk digunakan pada operasi SAR di lokasi remote area ataupun komunikasi off-grid seperti yang saya lakukan di gunung Sumbing ini.
Tentu dengan teknologi seperti ini, risiko bahaya dalam kegiatan luar ruangan bisa diminimalisir, kasus pendaki hilang dan kecelakaan bisa direspons dengan lebih cepat. Atau sekadar untuk mengurangi rasa risau orang-orang di rumah yang menunggu kita pulang ke rumah dengan memantau lokasi terkini kita yang sedang berada di alam bebas.
Tentun eskperimen ini tidak bisa berhasil jika saya lakukan sendiri, terimakasih rekan saya Agil yang menemani perjalanan, Bayu yang sudah mengantar dan memberikan fasilitas selama pendakian, Om Arifin YB2SAT untuk support perangakat yang diuji, Om Ayyub YC2VCA dan Om Winarto YC2UEA yang standby dan frekuensi memantau pergerakan kami dan memfasilitasi untuk eksperimen selama di gunung, Mas Jayeng YD2DAY dan rekan lain yang sempat memberi report di frekuensi. Havid Adhitama de YD2CLX.

.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)

.jpeg)
.jpg)

.jpg)
.jpg)
.jpeg)